Waktu akan
menjawab semuanya, tentang siapa yang berpura-pura dan siapa yang sesungguhnya.
Ku tahu aku tidaklah banyak memiliki teman karena aku yang tak pandai dalam
memainkan sandiwara kehidupan, tapi justru itu yang membuat aku bangga akan
diriku sendiri. Karena aku tak perlu menjadi orang lain hanya untuk mendapatkan
teman. Teman tidaklah di peroleh begitu saja, teman sejati di peroleh melalui
proses yang panjang. Banyak yang mengaku dia itu “sohibku” dia itu “sahabatku”
tapi ternyata di belakang dia membicarakan keburukan orang yang sudah dianggap
sebagai “sohib” maupun “sahabat”
Sebagai
contoh, hari ini aku mengetahui seberapa besarnya suatu hubungan persahatan,
awalnya dia mengaku kalau dia itu sahabat baiknya tapi ternyata semua keburukan
sahabatnya itu di umbar begitu saja. Hmmmmm miris aku melihatnya, di depannya
dia baik, bermanis kata tapi ternyata siap untuk menikam dari belakang.
Aw...... disamping itu juga hanya karena kesalahan kecil justru memicu sebuah
konflik yang bisa menghancurkan semuanya.
Teman itu
menikam dari belakang tapi seorang sahabat sejati itu langsung menampar dari
depan. Untuk apa memendam sebuah tekanan batin karena kekhilafan sobatnya yg
nantinya malah akan menimbulkan omongan omongan yang gak penting lebih baik
utarakan langsung karena itu akan lebih baik. Ya mungkin itu akan menyebabkan
sakit hati tapi itu hanya sementara karena subyek akan mereasa kalau orang yang
telah menganggapkan sebagai sahabat baiknya itu benar benar “care” dengan
dirinya dari pada di pendam hanya karena menjaga perasaan justru kalau dia tahu
keburukan itu melalui mulut orang lain dan orang lain itu mengatakan bahwa
dialah orang yang telah dianggapkan sobat yang menceritakan semua keburukannya
itu apa malah akan menimbulkan luka yang sangat perih????
Ya sekarang
kalian sendiri yang menentukan, apakah akan menjadi teman yg sekedar ucapan
manis di lidah atau menjadi sahabat baik yang bisa membawa sahabatnya menuju
jalan yang benar???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar