Rabu, 05 Desember 2012

Broken Glass


“Memang, gelas yang telah pecah takkan pernah bisa terlihat mulus meskipun kita berusaha menyatukan kembali serpihan serpihannya. Meskipun dengan lem terbaik sekalipun tetap saja akan terlihat kalau itu telah pecah. Tapi tidakkah kau tahu bahwa itu bisa menjadi terlihat lebih indah??” kata sang kakek. Ku berfikir sejenak membayangkan apa yang telah dikatakan oleh kakek. “Untuk mencapai suatu keindahan memang diperlukan suatu pengorbanan yang dilalui dari ujian ujian kehidupan. Setiap proses kehidupan akan mengajarkan kita tentang arti dari hidup itu sendiri dan juga kedewasaan. Mengetahui letak kesalahan diri sendiri dan berusaha untuk memperbaikinya dan berusaha untuk tidak mengulanginya kembali. Itulah proses kehidupan”

Jika gelas yang awalnya mulus, memang terlihat indah, tapi lama lama seiring berjalannya waktu gelas itu akan memudar keindahannya dan hanya akan berfungsi sebagai tempat untuk minum saja. Berbeda dengan gelas yang pernah pecah. Setiap goresan akibat menyatukan serpihan serpihan kacanya akan terbentuk suatu pola yang indah. Sehingga gelas yang hanya berfungsi sebagai tempat untuk minum kini berubah menjadi pajangan yang sangat indah.

Begitupun juga dengan manusia, semakin banyak ujian kehidupan yang dilaluinya akan membentuk karakter dalam dirinya. Selain itu juga akan menjadikannya kuat dan tegar dalam menghadapi setiap persoalan yang datang berikutnya. Masa lalu memang tak bisa diubah tapi dari masa lalu kita bisa membentuk masa depan yang lebih indah.

Tak sadar air mataku menetes dan aku mulai menyadari kalau mentari yang kucari itu ada dalam diriku sendiri. Bukan dari orang lain, tapi orang lain itulah pelangi yang akan datang kepadaku. Pelangi yang bisa memberikan warna dalam hidupku. “Lawanlah semua keraguan yang ada dalam dirimu, percayalah kalau kau mampu.” ujar sang kakek sambil tersenyum. Lalu aku bangkit dan memutuskan untuk kembali berhadapan dengan diriku yang lain yang berada di balik air terjun

Great waterfall


Ku lakukan apa yang telah disarankan oleh kakek itu, ku duduk di pulau kecil di depan air terjun itu. Sekejap perasaan dingin menyelubungi diriku. Ku coba untuk bermeditasi dan mengosongkan pikiran tapi itu selalu gagal karena konsentrasiku terpecah karena suara air yang sangatlah deras itu. Sang kakek yang melihatku sulit untuk berkonsentrasi kemudian berkata, “Jangan kau lawan arus yang ada, ikuti alurnya dan rasakan alirannya” ku coba sekali lagi dengan melakukan apa yang di sarankan oleh sang kakek. Dalam sekejap, perasaan hangat menyelubungi diriku, ketika aku berhasil mengikuti alur yang ada. Lalu sosok bayangan dari dalam air terjun yang mirip denganku muncul.
“Siapa dirimu? Kenapa kau mirip sekali denganku??” “Aku adalah dirimu, bagian gelap yang ada dalam dirimu,” jawab bayangan itu. “Lihatlah dirimu, kau begitu rapuh, ada rasa sakit yang luar biasa dalam dirimu, rasa sakit karena kecewa dengan orang di sekitarmu.” Sekejap aku merasakan sakit yang luar biasa dalam diriku, perih hingga aku terjatuh karena menahan rasa sakit itu. Ku coba untuk bangkit, “Apa yang kau lakukan padaku??” “Aku tak melakukan apapun padamu, aku hanya memperlihatkan kepadamu tentang apa yang kamu alami selama ini, dicaci dan dimaki oleh orang orang yang ada di sekitarnya, di pandang sebelah mata bahkan kau direndahkan. Lihatlah mereka menertawakan kesakitanmu, mereka menikmati keterpurukan dirimu dan mereka menjadikan air matamu itu sebagai bahan pembiraan untuk kembali menghinamu” “Diam,” “Kenapa, kau marah?? Bukannya dihatimu berisikan dendam kepada mereka semua??? Hahahaha” “Aku tak ada niatan untuk membalas dendam kepada mereka semua,” “Jangan kau bohongi hatimu, aku adalah sisi gelap dalam dirimu. Jadi aku bisa mengetahui semua yang ada dalam dirimu. Kau tahukan hujan yang terjadi di atas sana itu karenamu, kau menciptakan kerusakan dan kesakitan pada mereka semua. Biarkan saja itu berlangsung lama, biarkan mereka merasakan apa yang kau rasa. Rasa sakit yang selama ini terus menghantuimu.”
“Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan mencari sang mentari, lalu aku akan menunjukkan pelangi kepada semua orang sehingga mereka tak lagi merasakan perih.” “Hahahaha, jangan bercanda kau. Mencari mentari katamu, sampai kapanpun kau tak akan bisa menunjukkan pelangi kepada mereka. Dan sekarang diamlah kau di ilusi ini untuk selamanya”. Kemudian dia memukulku dan tepat mengenai perutku. Aku jatuh dan tersungkur, lalu kuputuskan untuk melawannya. Tapi dia bisa menahan semua seranganku dan akhirnya kita seimbang. Namun tiba tiba ku tersadar dan berada di depan air terjun itu.
“Kenapa anak muda? Apakah kau menemui sesuatu yang mengerikan sehingga membuatmu hingga terjatuh seperti itu,” kata sang kakek. “Aku melihat sisi gelap dalam diriku kek, aku yang egois, aku yang keras kepala, aku yang hanya inginnya dimengerti, aku yang tak bisa sedikit bersabar dan aku yang jahat. Semua itu adalah sifat negatifku kek. Disana aku melihat aku tertawa melihat orang orang menderita karena hujan badai ini. Aku mereasa bersalah kek. Apa yang harus aku lakukan?? Sepertinya aku memang takkan pernah bisa menunjukkan pelangi kepada mereka semua,” isakku. “Jangan menyerah, teruslah berusaha. Hidup itu proses yang mendewasakan, hidup itu memang keras selama ini kau memiliki hati yang lembuh, baik dan juga perngertian namun sifat pesimismu yang selalu bisa meruntuhkan semua niat baikmu. Kau belum bisa teguh dengan pendirianmu dan kau masih labil sehingga gampang terbawa aura negatif yang senantiasa bisa menjatuhkanmu. Sekarang beristirahatlah, isi dulu energimu. Setelah rasa lelahmu itu hilang, kau lanjutkan lagi” “Baik kek”
Aku pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon rindang bersama dengan kelinci putih yang menemaniku. Suara kicau burung dan hembusan angin membuatku terlelap. Dalam mimpiku aku melihat, dunia atas semakin porak poranda. Banyak orang yang meninggal karena terkena badai yang sangat dahsyat. Seorang anak kecil menangisi ibunya yang sudah tak bernyawa, seorang kakek yang berusaha untuk menolong seekor anjing yang hanyut terbawa air dan masih banyak lagi. Dan disitu aku melihat seseorang yang mirip denganku tertawa dengan riang melihat kejadian itu. Dan aku pun terbangun dengan nafas terengah engah. “Kau kenapa? Kenapa saat terbangun ekspresimu sangat menakutkan?” kata seekor burung kepadaku. “Apa kau bermimpi buruk?” lanjut kelinci. “Iya, mengerikan dan sangat mengerikan.” “Mimpi hanyalah bunga dari tidur, tak usah kau terlalu menghawatirkannya,” kata seekor kelinci. “Tidak ini begitu nyata, aku harus segera menemukan sang mentari dan membuat pelangi untuk mereka!!” “Kau takkan mudah untuk menemukannya,” “Sang mentari takkan pernah muncul jika kau tak bisa melawan bayanganmu sendiri” aku segera bangkit dan kembali duduk di depan air terjun. Dan lagi ku temui bagian lagi dari diriku.
Ku coba melawannya dengan berbagai cara, dengan cara frontal maupun dengan pemikiran. Tapi dia selalu bisa mengatasi bahwakan membalikakan semua perlawanan yang aku lakukan. Ku terjatuh dan tersungkur, “Kau takkan pernah bisa menang dariku. Sudah menyerahlah saja. Dan tinggallah di dunia ilusi ini, dan kau takkan pernah merasakan sakit hati lagi” “Diam, aku takkan pernah kalah darimu. Aku akan mengalahkanmu.” Sekali serang aku pun terjatuh dari semediku. Aku pun mulai putus asa.

Selasa, 04 Desember 2012

Old man and Waterfall


Ku berjalan terus menelusuri dasar jurang dimana aku telah terjatuh. Berjalan dan terus berjalan, gelap, pengap dan sunyi. Tapi itu semua tak menyurutkan langkahku untuk tetap berjalan untuk mencari mentariku. Hingga aku bertemu seseorang dengan jubah putih dan dia berkata kepadaku, “Apa yang kau cari di dasar jurang yang gelap ini?” dan aku pun menjawab, “Aku mencari matahari kek” “Untuk apa kau mencari matahari?” “Aku ingin melihat pelangi yang indah, karena diatas sana hujan turun sudah berhari hari” Sang kakek hanya tertawa mendengar jawaban atas pertanyaanku. Dan aku pun kembali bertanya kepadanya, “Kenapa kakek tertawa?? Dan apa yang kakek lakukan di tempat ini sendirian??” Sang kakek kemudian mengajakku kesuatu tempat, tempat itu adalah sebuah air terjun di ujung lorong gelap ini. Disitu terdapat kehidupan yang sangat indah. Burung burung bernyanyi riang, ada kelici, rusa dan seekor kucing.
Aku sangat takjub melihat keindahan itu, lalu kakek itu mengajakku untuk berjalan mendekati air terjun. Disana aku melihat kejadian aneh, dimana dari balik air terjun itu aku melihat bayanganku sendiri yang terpuruk karena banyaknya persoalan yang menerpa diriku. Lalu sang kakek berkata, “Hujan yang turun itu karena dirimu sendiri, luka di hatimu itu yang menyebabkan langit terus menangis dan membuat sang mentari enggan untuk bersinar.” “Iya kek, ku tak sanggup melalui hari hariku kini. Aku merasa sendiri sekarang, seseorang yang aku anggap mampu untuk membuat warna di hidupku kini pergi. Dan aku tak tahu kemana dia berada sekarang. Dialah matahari yang selama ini aku cari, matahari yang mampu menghangatkan hidupku yang kesepian. Tapi karena kebodohanku, semua kehangatan itu hancur. Dan aku sungguh sangat menyesalinya” ucapku dengan air mata yang berlinang.
“Cobalah untuk jujur dengan dirimu sendiri?” “Maksudnya?” “Jika kau ingin bahagia, kau harus membuang semua keraguan yang ada dalam hatimu. Belajarlah untuk bisa mempercayai orang lain, rasa takutmu yang akhirnya menjerum uskanmu kedalam jurang yang gelap.Yang membuatmu terpuruk hingga berada di titik yang paling dalam,” jawab sang kakek. Dan aku hanya terdiam. “Tapi kek, apakah aku bisa melakukan itu? Sedangkan gelas yang pecah takkan bisa terlihat mulus meskipun telah di lem dengan lem yang paling bagus sekalipun?” Dan lagi sang kakek hanya bisa tersenyum, lalu dia berkata, “Mungkin jika kamu memmperbaiki gelas itu dengan kesabaran pasti gelas itu akan kembali lagi, memang sulit untuk memperbaikinya dan menyatukannya satu persatu, mungkin jika kau menyatukan serpihan gelas itu dengan bersama pasti akan terasa cepat.”