Ku lakukan apa yang telah disarankan oleh
kakek itu, ku duduk di pulau kecil di depan air terjun itu. Sekejap perasaan
dingin menyelubungi diriku. Ku coba untuk bermeditasi dan mengosongkan pikiran
tapi itu selalu gagal karena konsentrasiku terpecah karena suara air yang
sangatlah deras itu. Sang kakek yang melihatku sulit untuk berkonsentrasi
kemudian berkata, “Jangan kau lawan arus yang ada, ikuti alurnya dan rasakan
alirannya” ku coba sekali lagi dengan melakukan apa yang di sarankan oleh sang
kakek. Dalam sekejap, perasaan hangat menyelubungi diriku, ketika aku berhasil
mengikuti alur yang ada. Lalu sosok bayangan dari dalam air terjun yang mirip
denganku muncul.
“Siapa dirimu? Kenapa kau mirip sekali
denganku??” “Aku adalah dirimu, bagian gelap yang ada dalam dirimu,” jawab
bayangan itu. “Lihatlah dirimu, kau begitu rapuh, ada rasa sakit yang luar
biasa dalam dirimu, rasa sakit karena kecewa dengan orang di sekitarmu.”
Sekejap aku merasakan sakit yang luar biasa dalam diriku, perih hingga aku
terjatuh karena menahan rasa sakit itu. Ku coba untuk bangkit, “Apa yang kau
lakukan padaku??” “Aku tak melakukan apapun padamu, aku hanya memperlihatkan kepadamu
tentang apa yang kamu alami selama ini, dicaci dan dimaki oleh orang orang yang
ada di sekitarnya, di pandang sebelah mata bahkan kau direndahkan. Lihatlah
mereka menertawakan kesakitanmu, mereka menikmati keterpurukan dirimu dan
mereka menjadikan air matamu itu sebagai bahan pembiraan untuk kembali
menghinamu” “Diam,” “Kenapa, kau marah?? Bukannya dihatimu berisikan dendam
kepada mereka semua??? Hahahaha” “Aku tak ada niatan untuk membalas dendam
kepada mereka semua,” “Jangan kau bohongi hatimu, aku adalah sisi gelap dalam
dirimu. Jadi aku bisa mengetahui semua yang ada dalam dirimu. Kau tahukan hujan
yang terjadi di atas sana itu karenamu, kau menciptakan kerusakan dan kesakitan
pada mereka semua. Biarkan saja itu berlangsung lama, biarkan mereka merasakan
apa yang kau rasa. Rasa sakit yang selama ini terus menghantuimu.”
“Tidak, aku tidak akan membiarkan itu
terjadi. Aku akan mencari sang mentari, lalu aku akan menunjukkan pelangi
kepada semua orang sehingga mereka tak lagi merasakan perih.” “Hahahaha, jangan
bercanda kau. Mencari mentari katamu, sampai kapanpun kau tak akan bisa
menunjukkan pelangi kepada mereka. Dan sekarang diamlah kau di ilusi ini untuk
selamanya”. Kemudian dia memukulku dan tepat mengenai perutku. Aku jatuh dan
tersungkur, lalu kuputuskan untuk melawannya. Tapi dia bisa menahan semua
seranganku dan akhirnya kita seimbang. Namun tiba tiba ku tersadar dan berada
di depan air terjun itu.
“Kenapa anak muda? Apakah kau menemui
sesuatu yang mengerikan sehingga membuatmu hingga terjatuh seperti itu,” kata
sang kakek. “Aku melihat sisi gelap dalam diriku kek, aku yang egois, aku yang
keras kepala, aku yang hanya inginnya dimengerti, aku yang tak bisa sedikit
bersabar dan aku yang jahat. Semua itu adalah sifat negatifku kek. Disana aku
melihat aku tertawa melihat orang orang menderita karena hujan badai ini. Aku
mereasa bersalah kek. Apa yang harus aku lakukan?? Sepertinya aku memang takkan
pernah bisa menunjukkan pelangi kepada mereka semua,” isakku. “Jangan menyerah,
teruslah berusaha. Hidup itu proses yang mendewasakan, hidup itu memang keras
selama ini kau memiliki hati yang lembuh, baik dan juga perngertian namun sifat
pesimismu yang selalu bisa meruntuhkan semua niat baikmu. Kau belum bisa teguh
dengan pendirianmu dan kau masih labil sehingga gampang terbawa aura negatif
yang senantiasa bisa menjatuhkanmu. Sekarang beristirahatlah, isi dulu energimu.
Setelah rasa lelahmu itu hilang, kau lanjutkan lagi” “Baik kek”
Aku pun memutuskan untuk beristirahat
sejenak di bawah pohon rindang bersama dengan kelinci putih yang menemaniku.
Suara kicau burung dan hembusan angin membuatku terlelap. Dalam mimpiku aku
melihat, dunia atas semakin porak poranda. Banyak orang yang meninggal karena
terkena badai yang sangat dahsyat. Seorang anak kecil menangisi ibunya yang
sudah tak bernyawa, seorang kakek yang berusaha untuk menolong seekor anjing
yang hanyut terbawa air dan masih banyak lagi. Dan disitu aku melihat seseorang
yang mirip denganku tertawa dengan riang melihat kejadian itu. Dan aku pun
terbangun dengan nafas terengah engah. “Kau kenapa? Kenapa saat terbangun ekspresimu
sangat menakutkan?” kata seekor burung kepadaku. “Apa kau bermimpi buruk?”
lanjut kelinci. “Iya, mengerikan dan sangat mengerikan.” “Mimpi hanyalah bunga
dari tidur, tak usah kau terlalu menghawatirkannya,” kata seekor kelinci.
“Tidak ini begitu nyata, aku harus segera menemukan sang mentari dan membuat
pelangi untuk mereka!!” “Kau takkan mudah untuk menemukannya,” “Sang mentari
takkan pernah muncul jika kau tak bisa melawan bayanganmu sendiri” aku segera
bangkit dan kembali duduk di depan air terjun. Dan lagi ku temui bagian lagi
dari diriku.
Ku coba melawannya
dengan berbagai cara, dengan cara frontal maupun dengan pemikiran. Tapi dia
selalu bisa mengatasi bahwakan membalikakan semua perlawanan yang aku lakukan.
Ku terjatuh dan tersungkur, “Kau takkan pernah bisa menang dariku. Sudah menyerahlah
saja. Dan tinggallah di dunia ilusi ini, dan kau takkan pernah merasakan sakit
hati lagi” “Diam, aku takkan pernah kalah darimu. Aku akan mengalahkanmu.”
Sekali serang aku pun terjatuh dari semediku. Aku pun mulai putus asa.