“Memang,
gelas yang telah pecah takkan pernah bisa terlihat mulus meskipun kita berusaha
menyatukan kembali serpihan serpihannya. Meskipun dengan lem terbaik sekalipun
tetap saja akan terlihat kalau itu telah pecah. Tapi tidakkah kau tahu bahwa
itu bisa menjadi terlihat lebih indah??” kata sang kakek. Ku berfikir sejenak
membayangkan apa yang telah dikatakan oleh kakek. “Untuk mencapai suatu
keindahan memang diperlukan suatu pengorbanan yang dilalui dari ujian ujian
kehidupan. Setiap proses kehidupan akan mengajarkan kita tentang arti dari
hidup itu sendiri dan juga kedewasaan. Mengetahui letak kesalahan diri sendiri
dan berusaha untuk memperbaikinya dan berusaha untuk tidak mengulanginya
kembali. Itulah proses kehidupan”
Jika
gelas yang awalnya mulus, memang terlihat indah, tapi lama lama seiring
berjalannya waktu gelas itu akan memudar keindahannya dan hanya akan berfungsi
sebagai tempat untuk minum saja. Berbeda dengan gelas yang pernah pecah. Setiap
goresan akibat menyatukan serpihan serpihan kacanya akan terbentuk suatu pola
yang indah. Sehingga gelas yang hanya berfungsi sebagai tempat untuk minum kini
berubah menjadi pajangan yang sangat indah.
Begitupun
juga dengan manusia, semakin banyak ujian kehidupan yang dilaluinya akan
membentuk karakter dalam dirinya. Selain itu juga akan menjadikannya kuat dan
tegar dalam menghadapi setiap persoalan yang datang berikutnya. Masa lalu
memang tak bisa diubah tapi dari masa lalu kita bisa membentuk masa depan yang
lebih indah.
Tak
sadar air mataku menetes dan aku mulai menyadari kalau mentari yang kucari itu
ada dalam diriku sendiri. Bukan dari orang lain, tapi orang lain itulah pelangi
yang akan datang kepadaku. Pelangi yang bisa memberikan warna dalam hidupku. “Lawanlah
semua keraguan yang ada dalam dirimu, percayalah kalau kau mampu.” ujar sang
kakek sambil tersenyum. Lalu aku bangkit dan memutuskan untuk kembali
berhadapan dengan diriku yang lain yang berada di balik air terjun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar