Ku berjalan terus menelusuri dasar jurang dimana aku telah
terjatuh. Berjalan dan terus berjalan, gelap, pengap dan sunyi. Tapi itu semua
tak menyurutkan langkahku untuk tetap berjalan untuk mencari mentariku. Hingga
aku bertemu seseorang dengan jubah putih dan dia berkata kepadaku, “Apa yang
kau cari di dasar jurang yang gelap ini?” dan aku pun menjawab, “Aku mencari
matahari kek” “Untuk apa kau mencari matahari?” “Aku ingin melihat pelangi yang
indah, karena diatas sana hujan turun sudah berhari hari” Sang kakek hanya
tertawa mendengar jawaban atas pertanyaanku. Dan aku pun kembali bertanya
kepadanya, “Kenapa kakek tertawa?? Dan apa yang kakek lakukan di tempat ini
sendirian??” Sang kakek kemudian mengajakku kesuatu tempat, tempat itu adalah
sebuah air terjun di ujung lorong gelap ini. Disitu terdapat kehidupan yang
sangat indah. Burung burung bernyanyi riang, ada kelici, rusa dan seekor
kucing.
Aku sangat takjub melihat keindahan itu, lalu kakek itu
mengajakku untuk berjalan mendekati air terjun. Disana aku melihat kejadian
aneh, dimana dari balik air terjun itu aku melihat bayanganku sendiri yang
terpuruk karena banyaknya persoalan yang menerpa diriku. Lalu sang kakek
berkata, “Hujan yang turun itu karena dirimu sendiri, luka di hatimu itu yang
menyebabkan langit terus menangis dan membuat sang mentari enggan untuk
bersinar.” “Iya kek, ku tak sanggup melalui hari hariku kini. Aku merasa
sendiri sekarang, seseorang yang aku anggap mampu untuk membuat warna di
hidupku kini pergi. Dan aku tak tahu kemana dia berada sekarang. Dialah
matahari yang selama ini aku cari, matahari yang mampu menghangatkan hidupku
yang kesepian. Tapi karena kebodohanku, semua kehangatan itu hancur. Dan aku
sungguh sangat menyesalinya” ucapku dengan air mata yang berlinang.
“Cobalah untuk jujur dengan dirimu sendiri?” “Maksudnya?”
“Jika kau ingin bahagia, kau harus membuang semua keraguan yang ada dalam
hatimu. Belajarlah untuk bisa mempercayai orang lain, rasa takutmu yang
akhirnya menjerum uskanmu kedalam jurang yang gelap.Yang membuatmu terpuruk
hingga berada di titik yang paling dalam,” jawab sang kakek. Dan aku hanya
terdiam. “Tapi kek, apakah aku bisa melakukan itu? Sedangkan gelas yang pecah
takkan bisa terlihat mulus meskipun telah di lem dengan lem yang paling bagus
sekalipun?” Dan lagi sang kakek hanya bisa tersenyum, lalu dia berkata, “Mungkin
jika kamu memmperbaiki gelas itu dengan kesabaran pasti gelas itu akan kembali
lagi, memang sulit untuk memperbaikinya dan menyatukannya satu persatu, mungkin
jika kau menyatukan serpihan gelas itu dengan bersama pasti akan terasa cepat.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar