Selasa, 04 Desember 2012

Old man and Waterfall


Ku berjalan terus menelusuri dasar jurang dimana aku telah terjatuh. Berjalan dan terus berjalan, gelap, pengap dan sunyi. Tapi itu semua tak menyurutkan langkahku untuk tetap berjalan untuk mencari mentariku. Hingga aku bertemu seseorang dengan jubah putih dan dia berkata kepadaku, “Apa yang kau cari di dasar jurang yang gelap ini?” dan aku pun menjawab, “Aku mencari matahari kek” “Untuk apa kau mencari matahari?” “Aku ingin melihat pelangi yang indah, karena diatas sana hujan turun sudah berhari hari” Sang kakek hanya tertawa mendengar jawaban atas pertanyaanku. Dan aku pun kembali bertanya kepadanya, “Kenapa kakek tertawa?? Dan apa yang kakek lakukan di tempat ini sendirian??” Sang kakek kemudian mengajakku kesuatu tempat, tempat itu adalah sebuah air terjun di ujung lorong gelap ini. Disitu terdapat kehidupan yang sangat indah. Burung burung bernyanyi riang, ada kelici, rusa dan seekor kucing.
Aku sangat takjub melihat keindahan itu, lalu kakek itu mengajakku untuk berjalan mendekati air terjun. Disana aku melihat kejadian aneh, dimana dari balik air terjun itu aku melihat bayanganku sendiri yang terpuruk karena banyaknya persoalan yang menerpa diriku. Lalu sang kakek berkata, “Hujan yang turun itu karena dirimu sendiri, luka di hatimu itu yang menyebabkan langit terus menangis dan membuat sang mentari enggan untuk bersinar.” “Iya kek, ku tak sanggup melalui hari hariku kini. Aku merasa sendiri sekarang, seseorang yang aku anggap mampu untuk membuat warna di hidupku kini pergi. Dan aku tak tahu kemana dia berada sekarang. Dialah matahari yang selama ini aku cari, matahari yang mampu menghangatkan hidupku yang kesepian. Tapi karena kebodohanku, semua kehangatan itu hancur. Dan aku sungguh sangat menyesalinya” ucapku dengan air mata yang berlinang.
“Cobalah untuk jujur dengan dirimu sendiri?” “Maksudnya?” “Jika kau ingin bahagia, kau harus membuang semua keraguan yang ada dalam hatimu. Belajarlah untuk bisa mempercayai orang lain, rasa takutmu yang akhirnya menjerum uskanmu kedalam jurang yang gelap.Yang membuatmu terpuruk hingga berada di titik yang paling dalam,” jawab sang kakek. Dan aku hanya terdiam. “Tapi kek, apakah aku bisa melakukan itu? Sedangkan gelas yang pecah takkan bisa terlihat mulus meskipun telah di lem dengan lem yang paling bagus sekalipun?” Dan lagi sang kakek hanya bisa tersenyum, lalu dia berkata, “Mungkin jika kamu memmperbaiki gelas itu dengan kesabaran pasti gelas itu akan kembali lagi, memang sulit untuk memperbaikinya dan menyatukannya satu persatu, mungkin jika kau menyatukan serpihan gelas itu dengan bersama pasti akan terasa cepat.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar